Ga terasa sudah memasuki bulan September. Sudah mengarah ke akhir tahun dan sudah lumayan jauh berjalan sampai di sini. Bisa dibilang tahun 2017 punya cerita untukku secara pribadi. Bagaimana naik turun, bahagia sedih, tawa tangis sungguh mewarnai tahun yang belum berakhir ini. Tahun yang identik dengan doa. Berada dalam kepanitiaan yang awalnya bukan tim doa, lalu akhirnya berada dalam tim doa yang mengharuskan untuk menjadi "pendoa yang baik", punya KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) di mana bagianku nanti membahas bab mengenai berdoa, dan tadi pagi bahan sateku pun tentang doa. Ini Tuhan sepertinya sedang ajarkan aku hal dasar yang dari dulu tidak pernah konsisten kulakukan. Dan jujur, tadi malam sebelum tidur (seperti biasa) aku malas untuk duduk dan berdoa, lalu dengan inisiatifnya aku menarik selimut dan langsung mengucapkan Doa Bapa Kami dalam hati, lalu bergegas tidur. Bangun pagiku pun agak hectic sehingga aku tidak benar-benar berdoa, cuma doa sekedarnya dalam hati. Lalu sampailah di pertengahan hari, aku melihat sesuatu yang sebenarnya kemarin-kemarin aku lihat rasanya biasanya saja, ntah mengapa untuk kali ini tidak biasa saja. Tiba-tiba saja hatiku bergetar, gelisah, salah dua pertanda bahwa aku tidak baik-baik saja. Lalu aku diam, pengen menyadarkan diri sendiri kalau aku tidak boleh seharusnya demikian. Hatiku tetap panas, tanganku bergetar namun inisiatif menghubungi salah seorang teman lalu menceritakan kegelisahan yang kurasakan. Ditengah percakapan, aku langsung sadar, aku tidak seharusnya menghubungi orang lain saat kondisi hati sedang seperti ini. Aku letakkan hp, lalu berdoa. Lagi-lagi menangis untuk hal tersebut, aku menyebut diriku bodoh, bahkan ketika berdoa. Tuhan tahu aku sangat bodoh dalam hal ini, bahkan aku sudah sering bilang padaNya kalau aku tidak bisa melewati semuanya. Sebelum berdoa, percakapan terakhirku dengan temanku adalah dia bertanya,"Apa perasaanmu sudah bisa menerima semuanya?" dengan polosnya aku menjawab (mengetik dengan jari gemetar),"Kalau aku tidak terima juga aku bisa apa? Mau tidak mau aku harus terima." Ditengah kondisiku yang sedang berdoa, aku sadar aku tidak bisa melakukan semuanya hanya karena terpaksa. Aku sadar aku belum sepenuhnya menerima, sehingga aku panas hati dan gelisah. Aku melakukan hal tersebut karena terpaksa, bukan karena aku memang sudah ikhlas menerimanya. Aku tahu Dia yang membuatku sadar, lagi-lagi Dia memelukku melalui doa dan aku merasa tenang. Ada lega di hati ketika aku mengatakan amin, temanku membalas chat, kurang lebih dia bilang bahwa aku harus dealing dengan perasaan sakitku, dan menerima semuanya bukan karena terpaksa, tapi karena memang benar-benar menerimanya. Apa yang Tuhan inginkan memang demikian bukan? Hanya bisa berterima kasih untuk waktu singkat di mana aku bisa berdoa dan menikmati komunikasi denganNya.
Monday, September 04, 2017
Saturday, August 26, 2017
Ketika berdoa membuatmu lebih tenang
Saya bukan seorang pendoa yang baik. Ketika hidup memberikan saya masalah, kecenderungan saya adalah larut dalam masalah itu dan malas untuk berdoa. Karena menurut saya, semua masalah yang terjadi itu karena kelalaian saya, dan saya malu kalau harus berhadapan dengan Sang Empunya kehidupan. Bahkan untuk sekedar mengucap syukur ketika bangun pagi terkadang mulut begitu berat.
Harus saya akui, ketika saya malas berdoa, yang ada justru bukanlah keadaan yang tambah membaik. Justru hal tersebut jadi celahnya si jahat untuk membuat kondisi hati semakin kacau. Saya ingat dulu saya pernah dapat nilai jelek waktu kuliah karena saya malas belajar, lalu (dengan labilnya) update status di Facebook tentang kondisi saya yang malu sama Tuhan karena tidak bertanggung jawab atas studi yang saya ambil. Lalu seorang teman saya mengomentari status saya kira-kira demikian,"Jangan mau diintimidasi oleh yang jahat. Kalau memang kamu salah, ya minta ampun sama yang Di Atas." Saya mengiyakan dalam hati dan malamnya, saya berdoa. Saya lupa bagaimana selanjutnya kabar studi saya tersebut, tapi saat itu yang saya tangkap adalah, berdoa membuat saya lebih tenang.
Hal tersebut sampai saat ini terus menerus saya ingat. Bahkan ketika saya kembali "tegar tengkuk" tidak mau berdoa, saya kembali mengingat perkataan kawan lama saya itu. Seperti yang terjadi pagi ini. Saya bangun dengan perasaan yang kurang enak karena beberapa hari ini mimpi random dan itu mempengaruhi mood saya beberapa hari ini. Saya tau mimpi random itu muncul karena pikiran saya yang ngalor ngidur karena beberapa persoalan yang menghampiri akhir-akhir ini. Bangun tadi pagi saya enggan langsung saat teduh. ketika buka mata saya cuma bilang "Makasih Tuhan buat hari ini." tapi tidak langung berdoa, saya malah buka instagram, facebook dan browsing-browsing. Lalu yang ada kondisi hati saya makin ga karuan. Lalu dalam posisi masih di tempat tidur saya duduk, dan tiba-tiba menangis. Lalu dengan tersedu-sedu saya melipat tangan dan berdoa. Ketika mengucapkan amin, saya melihat jam dan saya menyadari cukup lama saya berdoa, kira-kira 1 jam. I feel better, sudah melawan rasa enggan saya untuk berdoa. Dan saya lebih tenang. Saya melanjutkan saat teduh dan merasa hari ini sungguh amat baik untuk diawali. Bukan karena saya berdoa minta ini-itu dan berharap Tuhan akan mengabulkannya, tapi saya senang sudah ngobrol banyak sama Dia. Mungkin terkesan sederhana, tapi saya percaya ketika berdoa membuatku tenang, itu bukan karena rangkaian kata-kata yang saya panjatkan tapi tangan Tuhan memeluk saya dalam doa saya. Meski bukanlah doa yang sempurna, tapi Dia mendengarkan. Dan berdoa dengan penuh iman, apapun yang didoakan pasti akan mendatangkan kebaikan. Bukan menjadikan doa sebagai sarana merengkek karena kemauan tidak terpenuhi, tapi menjadikan doa sebagai sarana yang mengubah sikap hati kita yang tidak berkenan bagiNya.
Terima kasih Tuhan untuk pelukan hangatMu hari ini :)
Subscribe to:
Comments (Atom)