Ga terasa sudah memasuki bulan September. Sudah mengarah ke akhir tahun dan sudah lumayan jauh berjalan sampai di sini. Bisa dibilang tahun 2017 punya cerita untukku secara pribadi. Bagaimana naik turun, bahagia sedih, tawa tangis sungguh mewarnai tahun yang belum berakhir ini. Tahun yang identik dengan doa. Berada dalam kepanitiaan yang awalnya bukan tim doa, lalu akhirnya berada dalam tim doa yang mengharuskan untuk menjadi "pendoa yang baik", punya KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) di mana bagianku nanti membahas bab mengenai berdoa, dan tadi pagi bahan sateku pun tentang doa. Ini Tuhan sepertinya sedang ajarkan aku hal dasar yang dari dulu tidak pernah konsisten kulakukan. Dan jujur, tadi malam sebelum tidur (seperti biasa) aku malas untuk duduk dan berdoa, lalu dengan inisiatifnya aku menarik selimut dan langsung mengucapkan Doa Bapa Kami dalam hati, lalu bergegas tidur. Bangun pagiku pun agak hectic sehingga aku tidak benar-benar berdoa, cuma doa sekedarnya dalam hati. Lalu sampailah di pertengahan hari, aku melihat sesuatu yang sebenarnya kemarin-kemarin aku lihat rasanya biasanya saja, ntah mengapa untuk kali ini tidak biasa saja. Tiba-tiba saja hatiku bergetar, gelisah, salah dua pertanda bahwa aku tidak baik-baik saja. Lalu aku diam, pengen menyadarkan diri sendiri kalau aku tidak boleh seharusnya demikian. Hatiku tetap panas, tanganku bergetar namun inisiatif menghubungi salah seorang teman lalu menceritakan kegelisahan yang kurasakan. Ditengah percakapan, aku langsung sadar, aku tidak seharusnya menghubungi orang lain saat kondisi hati sedang seperti ini. Aku letakkan hp, lalu berdoa. Lagi-lagi menangis untuk hal tersebut, aku menyebut diriku bodoh, bahkan ketika berdoa. Tuhan tahu aku sangat bodoh dalam hal ini, bahkan aku sudah sering bilang padaNya kalau aku tidak bisa melewati semuanya. Sebelum berdoa, percakapan terakhirku dengan temanku adalah dia bertanya,"Apa perasaanmu sudah bisa menerima semuanya?" dengan polosnya aku menjawab (mengetik dengan jari gemetar),"Kalau aku tidak terima juga aku bisa apa? Mau tidak mau aku harus terima." Ditengah kondisiku yang sedang berdoa, aku sadar aku tidak bisa melakukan semuanya hanya karena terpaksa. Aku sadar aku belum sepenuhnya menerima, sehingga aku panas hati dan gelisah. Aku melakukan hal tersebut karena terpaksa, bukan karena aku memang sudah ikhlas menerimanya. Aku tahu Dia yang membuatku sadar, lagi-lagi Dia memelukku melalui doa dan aku merasa tenang. Ada lega di hati ketika aku mengatakan amin, temanku membalas chat, kurang lebih dia bilang bahwa aku harus dealing dengan perasaan sakitku, dan menerima semuanya bukan karena terpaksa, tapi karena memang benar-benar menerimanya. Apa yang Tuhan inginkan memang demikian bukan? Hanya bisa berterima kasih untuk waktu singkat di mana aku bisa berdoa dan menikmati komunikasi denganNya.
Monday, September 04, 2017
Saturday, August 26, 2017
Ketika berdoa membuatmu lebih tenang
Saya bukan seorang pendoa yang baik. Ketika hidup memberikan saya masalah, kecenderungan saya adalah larut dalam masalah itu dan malas untuk berdoa. Karena menurut saya, semua masalah yang terjadi itu karena kelalaian saya, dan saya malu kalau harus berhadapan dengan Sang Empunya kehidupan. Bahkan untuk sekedar mengucap syukur ketika bangun pagi terkadang mulut begitu berat.
Harus saya akui, ketika saya malas berdoa, yang ada justru bukanlah keadaan yang tambah membaik. Justru hal tersebut jadi celahnya si jahat untuk membuat kondisi hati semakin kacau. Saya ingat dulu saya pernah dapat nilai jelek waktu kuliah karena saya malas belajar, lalu (dengan labilnya) update status di Facebook tentang kondisi saya yang malu sama Tuhan karena tidak bertanggung jawab atas studi yang saya ambil. Lalu seorang teman saya mengomentari status saya kira-kira demikian,"Jangan mau diintimidasi oleh yang jahat. Kalau memang kamu salah, ya minta ampun sama yang Di Atas." Saya mengiyakan dalam hati dan malamnya, saya berdoa. Saya lupa bagaimana selanjutnya kabar studi saya tersebut, tapi saat itu yang saya tangkap adalah, berdoa membuat saya lebih tenang.
Hal tersebut sampai saat ini terus menerus saya ingat. Bahkan ketika saya kembali "tegar tengkuk" tidak mau berdoa, saya kembali mengingat perkataan kawan lama saya itu. Seperti yang terjadi pagi ini. Saya bangun dengan perasaan yang kurang enak karena beberapa hari ini mimpi random dan itu mempengaruhi mood saya beberapa hari ini. Saya tau mimpi random itu muncul karena pikiran saya yang ngalor ngidur karena beberapa persoalan yang menghampiri akhir-akhir ini. Bangun tadi pagi saya enggan langsung saat teduh. ketika buka mata saya cuma bilang "Makasih Tuhan buat hari ini." tapi tidak langung berdoa, saya malah buka instagram, facebook dan browsing-browsing. Lalu yang ada kondisi hati saya makin ga karuan. Lalu dalam posisi masih di tempat tidur saya duduk, dan tiba-tiba menangis. Lalu dengan tersedu-sedu saya melipat tangan dan berdoa. Ketika mengucapkan amin, saya melihat jam dan saya menyadari cukup lama saya berdoa, kira-kira 1 jam. I feel better, sudah melawan rasa enggan saya untuk berdoa. Dan saya lebih tenang. Saya melanjutkan saat teduh dan merasa hari ini sungguh amat baik untuk diawali. Bukan karena saya berdoa minta ini-itu dan berharap Tuhan akan mengabulkannya, tapi saya senang sudah ngobrol banyak sama Dia. Mungkin terkesan sederhana, tapi saya percaya ketika berdoa membuatku tenang, itu bukan karena rangkaian kata-kata yang saya panjatkan tapi tangan Tuhan memeluk saya dalam doa saya. Meski bukanlah doa yang sempurna, tapi Dia mendengarkan. Dan berdoa dengan penuh iman, apapun yang didoakan pasti akan mendatangkan kebaikan. Bukan menjadikan doa sebagai sarana merengkek karena kemauan tidak terpenuhi, tapi menjadikan doa sebagai sarana yang mengubah sikap hati kita yang tidak berkenan bagiNya.
Terima kasih Tuhan untuk pelukan hangatMu hari ini :)
Thursday, October 15, 2015
When Life Goes Wrong
Berada di usia 23
ternyata bukan hal yang mudah. Banyak orang yang bilang kalau umur tidak
menentukan kedewasaan. Ya,memang benar. Namun semakin bertambah usia seseorang,
semakin besar pula tuntutan –baik secara langsung mau pun tidak- untuk semakin dewasa.
Tidak setuju? Well, setidaknya ini
yang saya rasakan. Banyak hal yang ‘menyenggol bacok’ ego dan mental saya,
disaat seperti itulah, kedewasaan saya diuji.
Bagi saya pribadi, dewasa itu
tidak bisa dinilai secara statistik atau hanya sekedar “Oh, kamu dewasa, dia ga
dewasa”, karena dewasa sendiri menyangkut berbagai aspek yaitu pikiran,
perkataan, serta tingkah laku. Ribet ya? Ya, memang. Tapi saya yakin, berjalan
bersama Dia yang Empunya segala segalanya –bahkan Empunya hatiku yang rapuh
ini- proses kedewasaan itu akan terus terjadi. Mungkin harus melewati duka,
kecewa, tangis, marah, kesal, bahkan kegagalan. Tapi tidak apa-apa Tuhan…bentuklah
sesuai kehendakMu :)
Wednesday, August 05, 2015
You are Beautiful
Seringkali saya berpikir bahwa saya itu jelek. Kenapa? Karena banyak
wanita cantik yang kalau dibandingkan dengan saya, ya ibarat bongkahan emas di
tengah lautan lumpur lah. Wanita cantiknya ibarat bongkahan emasnya, saya
lautan lumpurnya hehehe. But, pikiran
yang demikian yang ada hanya bikin saya semakin insecure dan tidak bersyukur atas “tenunan” Tuhan ketika saya masih
ada dalam kandungan Ibu saya. Saya terlalu sibuk melihat kekurangan saya, lalu
minder, lalu tidak bersemangat dalam menjalani hidup ini..lalu..lalu..
meninggal sia-sia. NO! Saya tidak mau
menjadi manusia yang demikian. Di tengah-tengah
ke-insecure-an saya, saya bersyukur
saya boleh mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Semakin dekat, semakin bersyukur. Lho kok bisa?
Secara fisik saya tidaklah cantik. Rahang tegas, tulang pipi tinggi, hidung pesek, rambut ikal, jidat jenong, pori-pori wajah besar dan oily...begitulah kira-kira gambaran umum bentukan saya. Apakah yang seperti itu tidak cantik? Ya, menurut saya begitu. Saya berpikir alangkah bahagianya yang dilahirkan dengan hidung mancung, wajah tirus, dagu lancip, pori-pori kecil dan badan yang makan sebakul juga ga gendut-gendut. Ya, saya benci dengan orang yang seperti itu. No, lebih tepatnya jealous.
Tapi ternyata “perjumpaan khusus” dengan Tuhan membuat pemikiran cetek saya
perlahan semakin terbuka. Fisik bukanlah lagi menjadi hal yang membuat saya
minder, iri dengki, bahkan sampai membenci orang lain. Salah satu ayat favorit
yang membuat saya tertegur adalah ketika membaca Amsal 31. Meski saya belum
menikah, tapi ini merupakan sebuah kekuatan yang membuat saya bersemangat untuk
kelak menjadi isteri yang cakap. Hihihi.
Pada akhirnya saya berpikir semua wanita itu cantik. Ya, karena Tuhan
membentuk ciptaanNya sedemikian rupa. “Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di
bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada
satu hari pun dari padanya.” (Mazmur 139:15-16). Luar biasa memang, lantas apa
lagi alasan saya untuk tidak bersyukur? Saya bukan hanya belajar bersyukur atas
apa yang saya miliki, tapi juga apa yang orang lain miliki. Saya bukan hanya
belajar menghargai diri saya sendiri sebagai ciptaan Tuhan, tapi orang lain
juga ciptaan Tuhan yang perlu saya hargai.
Belajar bersyukur itu ga gampang. Kenapa? Karena banyak godaan duniawi
yang secara ga langsung buat kita ga bersyukur. Saya suka heran dengan spam comment
online shop di Instagram yang bilang “Bosan pendek hitam gemuk dll? Pakai
produk xxx dari kami!” seolah-olah membuat stereotype kalau cantik itu yang
putih, langsing, dan tinggi. Saya tingginya cuma 158cm, ga putih-putih banget,
dan endomorph. Jika spam komen OL shop IG itu dijadikan acuan, berarti saya
engga cantik dong? Huaaa…pernah ada seseorang yang berkata begini,”Dek, kamu
itu ga cantik..” and then I answered “Gapapa, tapi menurut aku, aku cantik
hehehe.” No, I didn’t say it in a narcissist way, but I am just being thankful
for what He has done to me :). Bukan berarti saya kontra dengan hal-hal yang berhubungan dengan kecantikan. Saya suka make up, namun saya sadar make up adalah penunjang penampilan, bukan semata-mata karena make up saya cantik dan ketika daya tidak ber-make up saya ga cantik. Salah satu video yang bikin saya makin sadar bahwa cantik itu bukan semata-mata soal penampilan adalah video dari Em Ford from My Pale Skin Blog ini.
Sungguh ya, melihat video ini kaya berkaca, apa saya pernah diginiin orang, atau malah saya pernah giniin orang. Dengan sengaja/tidak mengomentari seseorang sampai akhirnya berujung menghina bahkan menghakimi. Ya, terkadang pun berbicara dengan teman kalau tidak dikontrol suka ga sadar malah
ngomongin kelemahan bahkan fisik orang. Awalnya cuma bilang,”Eh, si A cantik
ya!” “Ah, dia kan cantik make up.” “Oh ya?” “Iya, dia itu blablabla…” ujung-ujungnya
jadi menggunjingkan orang lain. Memang, mulut kalau tidak dikontrol ibarat api,
membakar rumah pun ia sanggup. Kalau kita dapat bersyukur atas karya Tuhan
dalam kehidupan kita, tentulah kita pun dapat melihat karya Tuhan dalam hidup
orang lain juga.
Saat ini pun, saya terkadang masih suka merasa tidak cantik. Lho? Iya, saya merasa
jelek kalau lagi malas, lagi susah ngontrol emosi, lagi cemberut, lagi ga
sabaran…pokoknya ketika saya dalam kondisi ga “ngenakin” gitu, saya merasa
jeleeeek banget. Kalau sudah begitu, ya harus kembali “sadar ke jalan yang
benar” hehehe pergaulan yang baik dengan Tuhan dan dengan orang-orang sekitar
tentulah membantu kita untuk tetap berada di rules-nya Tuhan. So...selamat
menjadi cantik, wanita-wanita! :)
Tuesday, June 16, 2015
Wisuda?
Jadi ceritanya iseng-iseng buka blog, pengen lihat sudah sebanyak apa sarang laba-laba di blog ini. Ternyata bukan sarang laba-laba lagi yang muncul, bahkan sudah berhantu...hiiiii. Oke ini lebay. Hmmm..jadi sebenarnya pengen nulis lagi setelah melihat post terakhirku adalah bulan Juni tahun 2014. OMG! Time flies atau memang akunya yang masa bodoh sama ini blog? *kemudian merenung di pojokan*
*setelah merenung selesai*
Hmmm... sampai mana tadi? Oh ya, maafkan aku ya blog sudah menelantarkanmu karena aku memang suka moody-an. Gaya aja awal-awal pengen,"Wah, pengen nge-blog ah habisnya aku nge-fans banget sama Diana Rikasari!", tapi apa daya meski pun nama depan kami berdua sama tetap saja Diana yang ini sama Diana yang itu beda jauh. Yang pasti Diana yang itu konsisten nge-blog, aku pun konsisten kok...males-malesannya.
Oke lah untuk mengurangi rasa males, aku mulai aja ya tujuanku sebenarnya. Sebenarnya aku pengen nulis kelanjutan dari blog post aku yang terakhir. Iya, yang soal galau-galauan karena skripsi. Lho, kan sudah setahun yang lalu kok masih ada kelanjutannya? Skripsinya belum selesai toh? Eits, enak aja. Ariel aja bilang,"Tak ada yang abadi...", begitu pun dengan skripsiku. Hehehehe. Jangankan skripsi, wong wisuda juga sudah kok. Hehe. Nah, soal wisudalah yang mau aku ceritakan.
Sebenarnya soal wisuda juga bukan hal yang bikin aku excited atau apalah itu. Karena kelamaan nunggunya, men! Aku lulus bulan September 2014, sedangkan wisuda tanggal 7 Maret 2015. Yak, hampir setengah tahun nunggu wisuda doang! Ya sebenarnya gak begitu kerasa juga karena sibuk jadi job seeker, ya kali 5 bulan nunggu-nunggu doang ga ada kerjaan lain.
Menjelang wisuda yang semakin dekat, barulah muncul ke-excited-an-ku (bahasa apa ini?). Excited jahit kebaya, hunting studio foto yang kece buat foto keluarga, cari-cari tiket murah karena Batam-Bandung ga mungkin jalan kaki, bukan? Sibuk cari-cari penginapan, dll dll sampai capek sendiri. Padahal kalau dipikir-dipikir untuk apa wisuda ribet-ribet? Toh itu hanya celebration, yang jauh lebih ribet adalah mencari pekerjaan :(
Oke, lupakan soal ribetnya mencari pekerjaan yang tak kunjung dapat, kayaknya lebih seru kalau flashback lagi momen wisuda 3 bulan yang lalu. Hehe.
Wisuda tanggal 7 Maret 2015, tapi aku sudah di Bandung tanggal 16 Februari untuk keperluan tanda tangan ijazah. So, 2 minggu adalah waktu yang cukup lama untuk senang-senang di Bandung sebelum akhirnya kembali lagi ke Batam *pasang lagu Raisa - LDR*. Bisa dibilang kerjaan di Bandung cuma makan-nonton-jalan, repreat. Sampai akhirnya niatan kurus untuk wisuda harus ambyar karena berat badan naik. Huhu. Ya sudahlah, untung kebayanya masih muat. Muat dikit. Banyakan ga muatnya. Huft.
Ngomong-ngomong soal kebaya, sebenarnya aku juga ga mau pakai kebaya yang benar-benar kebaya (apa ya istilahnya?), maklum anaknya grasak-grusuk takut ga betah mengingat wisuda bisa sampai berjam-jam. Nah jadi bikinnya lebih ke modern kebaya gitu, terus bawahannya pakai kain lilit aja. Simpel bukan? Jadi masih bisa lari-lari dan jejingkrakan gitu..lah ini mau wisudaan apa mau akrobatik? *abaikan*
Lalu make-up & hair-do. Tidaklah afdol jikalau kostum udah oke tapi muka bare-faced. Tadinya mau sok-sok dendong sendiri, tapi gara-gara bingung mau beli brush apa (alasan macam apa ini) akhirnya kuputuskan pakai jasa make-up arteeeeisss kondang supaya akunya juga ikut kondang. Setelah research sana sini akhirnya pakai jasa Nayah_MUA yang tangannya super duper ajaib karena wajahkuyang sudah cantik disulap jadi luar biasa. Untuk make-up puas sekali meskipun rambut agak kurang puas karena menurutku agak kurang rapi. But overall recommended sekali untuk make-up di Nayah_MUA.
Lanjut topoto. Aku pilih Jonas Photo karena sudah terkenal seantero Bandung dan sekitarnya. Harga memang agak pricey dibanding studio yang lain (kecuali dibandingkan dengan studio photo di Batam, jauh mahalan di Batam huhu) dan hasilnya ga perlu diragukan lagi. Service-nya juga oke ngeladenin permintaan buat ngirim fotonya ke Batam. Iya, foto yang udah dibingkai gede itu dikirim ke Batam karena baru jadi sekitar 2 minggu, ya udah ga di Bandung lagi dong kita sekeluarga. Fotonya pun sampai di rumah tepat 2 minggu kemudian, pakai packaging kayu jadi aman dan sama sekali ga lecet.
Begitulah kira-kira gambaran kehebohan wisudaku tanggal 7 Maret yang lalu. Sebenarnya ga heboh-heboh banget sih, but Thank God aku sudah boleh merasakan wisuda. Sudah boleh merasakan bagaimana maju ke depan dan salaman dengan rektor sebagai lulusan cumlaude. Hehehe. Berakhir sudah euphoria wisuda, dan sekali lagi menyadarkanku kalau ini bukan akhir dari segalanya. Wisuda bukan akhir dari perjuangan, mentang-mentang udah ga jadi mahasiwa lagi, tapi sebuah awal yang baru untuk perjuangan selanjutnya. Ya, akhir kata dari saya yang masih menganggur ini, selamat berjuang! :)
*setelah merenung selesai*
Hmmm... sampai mana tadi? Oh ya, maafkan aku ya blog sudah menelantarkanmu karena aku memang suka moody-an. Gaya aja awal-awal pengen,"Wah, pengen nge-blog ah habisnya aku nge-fans banget sama Diana Rikasari!", tapi apa daya meski pun nama depan kami berdua sama tetap saja Diana yang ini sama Diana yang itu beda jauh. Yang pasti Diana yang itu konsisten nge-blog, aku pun konsisten kok...males-malesannya.
Oke lah untuk mengurangi rasa males, aku mulai aja ya tujuanku sebenarnya. Sebenarnya aku pengen nulis kelanjutan dari blog post aku yang terakhir. Iya, yang soal galau-galauan karena skripsi. Lho, kan sudah setahun yang lalu kok masih ada kelanjutannya? Skripsinya belum selesai toh? Eits, enak aja. Ariel aja bilang,"Tak ada yang abadi...", begitu pun dengan skripsiku. Hehehehe. Jangankan skripsi, wong wisuda juga sudah kok. Hehe. Nah, soal wisudalah yang mau aku ceritakan.
Sebenarnya soal wisuda juga bukan hal yang bikin aku excited atau apalah itu. Karena kelamaan nunggunya, men! Aku lulus bulan September 2014, sedangkan wisuda tanggal 7 Maret 2015. Yak, hampir setengah tahun nunggu wisuda doang! Ya sebenarnya gak begitu kerasa juga karena sibuk jadi job seeker, ya kali 5 bulan nunggu-nunggu doang ga ada kerjaan lain.
Menjelang wisuda yang semakin dekat, barulah muncul ke-excited-an-ku (bahasa apa ini?). Excited jahit kebaya, hunting studio foto yang kece buat foto keluarga, cari-cari tiket murah karena Batam-Bandung ga mungkin jalan kaki, bukan? Sibuk cari-cari penginapan, dll dll sampai capek sendiri. Padahal kalau dipikir-dipikir untuk apa wisuda ribet-ribet? Toh itu hanya celebration, yang jauh lebih ribet adalah mencari pekerjaan :(
Oke, lupakan soal ribetnya mencari pekerjaan yang tak kunjung dapat, kayaknya lebih seru kalau flashback lagi momen wisuda 3 bulan yang lalu. Hehe.
Wisuda tanggal 7 Maret 2015, tapi aku sudah di Bandung tanggal 16 Februari untuk keperluan tanda tangan ijazah. So, 2 minggu adalah waktu yang cukup lama untuk senang-senang di Bandung sebelum akhirnya kembali lagi ke Batam *pasang lagu Raisa - LDR*. Bisa dibilang kerjaan di Bandung cuma makan-nonton-jalan, repreat. Sampai akhirnya niatan kurus untuk wisuda harus ambyar karena berat badan naik. Huhu. Ya sudahlah, untung kebayanya masih muat. Muat dikit. Banyakan ga muatnya. Huft.
Ngomong-ngomong soal kebaya, sebenarnya aku juga ga mau pakai kebaya yang benar-benar kebaya (apa ya istilahnya?), maklum anaknya grasak-grusuk takut ga betah mengingat wisuda bisa sampai berjam-jam. Nah jadi bikinnya lebih ke modern kebaya gitu, terus bawahannya pakai kain lilit aja. Simpel bukan? Jadi masih bisa lari-lari dan jejingkrakan gitu..lah ini mau wisudaan apa mau akrobatik? *abaikan*
Lalu make-up & hair-do. Tidaklah afdol jikalau kostum udah oke tapi muka bare-faced. Tadinya mau sok-sok dendong sendiri, tapi gara-gara bingung mau beli brush apa (alasan macam apa ini) akhirnya kuputuskan pakai jasa make-up arteeeeisss kondang supaya akunya juga ikut kondang. Setelah research sana sini akhirnya pakai jasa Nayah_MUA yang tangannya super duper ajaib karena wajahku
Lanjut topoto. Aku pilih Jonas Photo karena sudah terkenal seantero Bandung dan sekitarnya. Harga memang agak pricey dibanding studio yang lain (kecuali dibandingkan dengan studio photo di Batam, jauh mahalan di Batam huhu) dan hasilnya ga perlu diragukan lagi. Service-nya juga oke ngeladenin permintaan buat ngirim fotonya ke Batam. Iya, foto yang udah dibingkai gede itu dikirim ke Batam karena baru jadi sekitar 2 minggu, ya udah ga di Bandung lagi dong kita sekeluarga. Fotonya pun sampai di rumah tepat 2 minggu kemudian, pakai packaging kayu jadi aman dan sama sekali ga lecet.
Begitulah kira-kira gambaran kehebohan wisudaku tanggal 7 Maret yang lalu. Sebenarnya ga heboh-heboh banget sih, but Thank God aku sudah boleh merasakan wisuda. Sudah boleh merasakan bagaimana maju ke depan dan salaman dengan rektor sebagai lulusan cumlaude. Hehehe. Berakhir sudah euphoria wisuda, dan sekali lagi menyadarkanku kalau ini bukan akhir dari segalanya. Wisuda bukan akhir dari perjuangan, mentang-mentang udah ga jadi mahasiwa lagi, tapi sebuah awal yang baru untuk perjuangan selanjutnya. Ya, akhir kata dari saya yang masih menganggur ini, selamat berjuang! :)
Thursday, June 05, 2014
Dear Skripsi..
Skripsiku kapan berakhirnya? Aku malas...bergelut dengan rangkaian kata yang bukan hanya memperhitungkan tata cara penulisan namun juga isi yang berbobot.
Skripsiku kapan berakhirnya? Di saat teman-temanku sudah beres dan tinggal menunggu sidang, aku hanya terdiam menatap bab 2 dan 3 yang tak kunjung selesai.
Skripsiku kapan berakhirnya? Aku ingin pulang, lelah otak ini memikirkanmu. Di rumah enak, ga perlu mikirin skripsi. Cuma capek membantu Mama saja.
Skripsiku kapan berakhirnya? Aku tau ini bukan keluhan yang bijak. Tapi...aku harap aku bisa meninggalkanmu suatu hari nanti. Meninggalkanmu karena aku sudah menyelesaikanmu dengan baik, dengan hasil apapun. Tapi aku mohon, aku ingin kamu selesai dengan nilai terbaik. Karena mengerjakanmu perlu waktu terbaikku, bukan waktu senggang..tapi waktu yang benar-benar kucurahkan penuh atasmu.
Skripsiku kapan berakhir? Ah, aku tak mau nanya kapan, yang jelas kamu pasti selesai kok. Aku yakin.
Monday, January 13, 2014
God bless you, nangtulangku
Kalau disuruh milih, "Lebih baik sehat atau sakit?", tentu kita semua milih sehat, karena sehat itu enak. Kecuali saya dulu waktu kecil tiap nonton sinetron yang ada adegan di tempat tidur rumah sakit, pakai gips, infus, oksigen di mulut, banyak yang jengukin dan banyak yang perhatiin, tentu saya milihnya sakit aja, karena kelihatannya kok enak banget. Tapi itu dulu, waktu saya masih lugu dan polos (sekarang juga sih). Kalau sekarang, my answer is definatelly "NOOO!" untuk adegan-adegan di ranjang rumah sakit itu, serem ternyata setelah lihat versi aslinya. Ya, saya pernah lihat versi aslinya. Orang tua saya dua-duanya pernah mengalami yang namanya di rawat di rumah sakit. Yang pertama Mami saya, waktu saya kelas 2 SMP, beliau operasi kista kecil di payudaranya. Melihat Mami terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, saya ngilu sendiri. Apalagi setelah beliau selesai menjalani operasi, masih dengan setengah sadar suster-suster membawa Mami saya ke kamar perawatan. Dan saya yang sedari awal menunggu di kamar perawatan cuma bisa terbengong-bengong melihat Mami saya yang antara ga sadar & menahan sakit karena infus yang perlahan-lahan menghilang efeknya. Tapi dulu namanya belum merasa empati, saya cuma bisa diam padahal dalam hati saya panik,"Mami bakal sembuh ga ya?" :(
Selanjutnya Papi saya, waktu saya kelas 3 SMA beliau demam tinggi dan lumayan lama. Kami sekeluarga yang awalnya berpikir "Ah, paling cuma demam biasa" akhirnya meminta Papi untuk berobat ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. And guess what? Papi di diagnosa mengidap DBD (Demam Berdarah) dan harus diopname selama beberapa hari (kurang lebih 2 minggu kalau tidak salah). Dari situ saya merasa semakin takut, takut kondisi Papi lebih parah daripada operasi Mami. Apalagi semenjak Papi diopname, kehidupan berasa stuck dan bener-bener kehilangan, karena biasanya Papi yang antar ke sekolah, yang ngantar kemana-mana, kali ini bener-bener merasa lumpuh, apalagi saya ga bisa bawa mobil -_- belum lagi Mami yang jagain Papi di rumah sakit, rumah pun terbengkalai. Dalam hati saya cuma bisa bilang,"Tuhan, Papi bakal baik-baik aja kan?" Saking berasa kehilangannya saya pernah nulis note di Facebook saya tentang Papi saya disini.
Lanjut, ternyata ga sampai di situ aja, tepatnya tahun lalu (Januari 2013) Mami saya kembali menjalani operasi pengangkatan kista di payudaranya yang ternyata sudah berkembang biak. Kalau 6 tahun yang lalu cuma ada 1 kista, kali ini kistanya sudah bertambah sekitar 40an di salah satu payudara (saya lupa tepatnya berapa). Hancur hati saya, yang tadinya saya ga mau terlihat sedih tapi saya kepikiran juga. Di depan Mami saya ga berani sedih/nangis, takut beliau malah down dan mengganggu proses pengobatannya, saya cuma bilang,"Sabar ya Mi, kita obatin." sambil kasih senyum termanis, tapi dalam hati saya rapuh juga. Takut sama yang namanya kehilangan. Apalagi waktu Mami bilang,"Kan adek belom lulus kuliah, kalau Mami mati gimana?" Ya Tuhan rasanya pengen terjun ke bawah kalau misalnya saat itu saya lagi di gedung bertingkat. Tapi lagi-lagi saya cuma senyum sambil bilang,"Gapapa kok, Mi. Dokternya bilang ga ganas kan? Kita obatin.." Kalau ingat-ingat masa itu rasanya ngeri banget, tapi Puji Tuhan Mami saya sudah melewatinya tahap-tahap operasi dengan baik.
Saat ini, Papi Mami saya dalam kondisi tubuh yang Puji Tuhan baik dan sehat. Tapi beberapa hari yang lalu saya dan keluarga mendapat kabar kalau nangtulang saya di Medan saat ini sedang dalam kondisi lemah tubuh karena kanker paru-paru. Shock. Bukan cuma shock, shock banget. Karen baru beberapa bulan yang lalu beliau menjalani operasi pengangkatan payudara karena mengidap kanker payudara yang ganas. Namun karena hasil laboratorium menyatakan bahwa kanker tersebut ternyata tidak berbahaya, kami bisa bernapas lega, namun ternyata...I don't how it comes, apakah mungkin itu adalah kanker payudara yang telah menjalar sehingga terjadi komplikasi, atau sebelumnya memang sudah ada...yang jelas saat itu nangtulangku sedang dalam kondisi yang sangat lemah. Jujur ketika aku mendengar kabar ini aku cuma bisa diam, namun dalam hati ini meringis, aku mungkin ga bisa merasakan sulitnya nangtulangku bernapas karena sesak di dadanya, tapi aku sedih. Apalagi kalau ingat dulu bagaimana saya tinggal di rumahnya saat saya lagi sibuk-sibuknya intens untuk masuk perguruan tinggi. I love her cooking! Beliau sangat suka memasak, segala macam bahan-bahan di pasar tradisional bisa diubahnya jadi makanan super-duper enak! Even telur dadar sekalipun! How magic her hands are! Terbayang beliau saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit, sediiiih banget rasanya. Mungkin saya hanya 2 bulan berasa di rumahnya, tapi pengalaman yang saya dapat disana, it's more than anything! Meskipun terkadang (bahkan sering) ngeluh karena capek ngerjain tugas-tugas rumahnya, such as nyuci piring seabrek-abrek, nyapu-ngepel, nyuci, but I'd take those as lessons learned :'D thanks for everything, nangtulangku :')
Saat ini saya mungkin tidak bisa membantu apa-apa, tidak bisa membantu dari segi materi ataupun berada di sana untuk memberi support. Yang bisa kulakukan saat ini hanya berdoa, berdoa yang terbaik untuk nangtulangku. Supaya kehendak Tuhan saja yang jadi. Namun jauh dari dalam lubuk hatiku, aku tetap ingin nangtulangku pulih dari sakitnya, sesak di dadanya hilang, supaya beliau ga perlu nahan-nahan sakit lagi. Tapi kembali lagi, biat kehendakNya saja yang jadi, bukan kehendakku. I pray everything the best for you, nangtulang...God bless you..
Subscribe to:
Comments (Atom)



