Seringkali saya berpikir bahwa saya itu jelek. Kenapa? Karena banyak
wanita cantik yang kalau dibandingkan dengan saya, ya ibarat bongkahan emas di
tengah lautan lumpur lah. Wanita cantiknya ibarat bongkahan emasnya, saya
lautan lumpurnya hehehe. But, pikiran
yang demikian yang ada hanya bikin saya semakin insecure dan tidak bersyukur atas “tenunan” Tuhan ketika saya masih
ada dalam kandungan Ibu saya. Saya terlalu sibuk melihat kekurangan saya, lalu
minder, lalu tidak bersemangat dalam menjalani hidup ini..lalu..lalu..
meninggal sia-sia. NO! Saya tidak mau
menjadi manusia yang demikian. Di tengah-tengah
ke-insecure-an saya, saya bersyukur
saya boleh mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Semakin dekat, semakin bersyukur. Lho kok bisa?
Secara fisik saya tidaklah cantik. Rahang tegas, tulang pipi tinggi, hidung pesek, rambut ikal, jidat jenong, pori-pori wajah besar dan oily...begitulah kira-kira gambaran umum bentukan saya. Apakah yang seperti itu tidak cantik? Ya, menurut saya begitu. Saya berpikir alangkah bahagianya yang dilahirkan dengan hidung mancung, wajah tirus, dagu lancip, pori-pori kecil dan badan yang makan sebakul juga ga gendut-gendut. Ya, saya benci dengan orang yang seperti itu. No, lebih tepatnya jealous.
Tapi ternyata “perjumpaan khusus” dengan Tuhan membuat pemikiran cetek saya
perlahan semakin terbuka. Fisik bukanlah lagi menjadi hal yang membuat saya
minder, iri dengki, bahkan sampai membenci orang lain. Salah satu ayat favorit
yang membuat saya tertegur adalah ketika membaca Amsal 31. Meski saya belum
menikah, tapi ini merupakan sebuah kekuatan yang membuat saya bersemangat untuk
kelak menjadi isteri yang cakap. Hihihi.
Pada akhirnya saya berpikir semua wanita itu cantik. Ya, karena Tuhan
membentuk ciptaanNya sedemikian rupa. “Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di
bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada
satu hari pun dari padanya.” (Mazmur 139:15-16). Luar biasa memang, lantas apa
lagi alasan saya untuk tidak bersyukur? Saya bukan hanya belajar bersyukur atas
apa yang saya miliki, tapi juga apa yang orang lain miliki. Saya bukan hanya
belajar menghargai diri saya sendiri sebagai ciptaan Tuhan, tapi orang lain
juga ciptaan Tuhan yang perlu saya hargai.
Belajar bersyukur itu ga gampang. Kenapa? Karena banyak godaan duniawi
yang secara ga langsung buat kita ga bersyukur. Saya suka heran dengan spam comment
online shop di Instagram yang bilang “Bosan pendek hitam gemuk dll? Pakai
produk xxx dari kami!” seolah-olah membuat stereotype kalau cantik itu yang
putih, langsing, dan tinggi. Saya tingginya cuma 158cm, ga putih-putih banget,
dan endomorph. Jika spam komen OL shop IG itu dijadikan acuan, berarti saya
engga cantik dong? Huaaa…pernah ada seseorang yang berkata begini,”Dek, kamu
itu ga cantik..” and then I answered “Gapapa, tapi menurut aku, aku cantik
hehehe.” No, I didn’t say it in a narcissist way, but I am just being thankful
for what He has done to me :). Bukan berarti saya kontra dengan hal-hal yang berhubungan dengan kecantikan. Saya suka make up, namun saya sadar make up adalah penunjang penampilan, bukan semata-mata karena make up saya cantik dan ketika daya tidak ber-make up saya ga cantik. Salah satu video yang bikin saya makin sadar bahwa cantik itu bukan semata-mata soal penampilan adalah video dari Em Ford from My Pale Skin Blog ini.
Sungguh ya, melihat video ini kaya berkaca, apa saya pernah diginiin orang, atau malah saya pernah giniin orang. Dengan sengaja/tidak mengomentari seseorang sampai akhirnya berujung menghina bahkan menghakimi. Ya, terkadang pun berbicara dengan teman kalau tidak dikontrol suka ga sadar malah
ngomongin kelemahan bahkan fisik orang. Awalnya cuma bilang,”Eh, si A cantik
ya!” “Ah, dia kan cantik make up.” “Oh ya?” “Iya, dia itu blablabla…” ujung-ujungnya
jadi menggunjingkan orang lain. Memang, mulut kalau tidak dikontrol ibarat api,
membakar rumah pun ia sanggup. Kalau kita dapat bersyukur atas karya Tuhan
dalam kehidupan kita, tentulah kita pun dapat melihat karya Tuhan dalam hidup
orang lain juga.
Saat ini pun, saya terkadang masih suka merasa tidak cantik. Lho? Iya, saya merasa
jelek kalau lagi malas, lagi susah ngontrol emosi, lagi cemberut, lagi ga
sabaran…pokoknya ketika saya dalam kondisi ga “ngenakin” gitu, saya merasa
jeleeeek banget. Kalau sudah begitu, ya harus kembali “sadar ke jalan yang
benar” hehehe pergaulan yang baik dengan Tuhan dan dengan orang-orang sekitar
tentulah membantu kita untuk tetap berada di rules-nya Tuhan. So...selamat
menjadi cantik, wanita-wanita! :)


