Thursday, October 15, 2015

When Life Goes Wrong

Berada di usia 23 ternyata bukan hal yang mudah. Banyak orang yang bilang kalau umur tidak menentukan kedewasaan. Ya,memang benar. Namun semakin bertambah usia seseorang, semakin besar pula tuntutan –baik secara langsung mau pun tidak- untuk semakin dewasa. Tidak setuju? Well, setidaknya ini yang saya rasakan. Banyak hal yang ‘menyenggol bacok’ ego dan mental saya, disaat seperti itulah, kedewasaan saya diuji. 

Bagi saya pribadi, dewasa itu tidak bisa dinilai secara statistik atau hanya sekedar “Oh, kamu dewasa, dia ga dewasa”, karena dewasa sendiri menyangkut berbagai aspek yaitu pikiran, perkataan, serta tingkah laku. Ribet ya? Ya, memang. Tapi saya yakin, berjalan bersama Dia yang Empunya segala segalanya –bahkan Empunya hatiku yang rapuh ini- proses kedewasaan itu akan terus terjadi. Mungkin harus melewati duka, kecewa, tangis, marah, kesal, bahkan kegagalan. Tapi tidak apa-apa Tuhan…bentuklah sesuai kehendakMu :)

Wednesday, August 05, 2015

You are Beautiful

Seringkali saya berpikir bahwa saya itu jelek. Kenapa? Karena banyak wanita cantik yang kalau dibandingkan dengan saya, ya ibarat bongkahan emas di tengah lautan lumpur lah. Wanita cantiknya ibarat bongkahan emasnya, saya lautan lumpurnya hehehe. But, pikiran yang demikian yang ada hanya bikin saya semakin insecure dan tidak bersyukur atas “tenunan” Tuhan ketika saya masih ada dalam kandungan Ibu saya. Saya terlalu sibuk melihat kekurangan saya, lalu minder, lalu tidak bersemangat dalam menjalani hidup ini..lalu..lalu.. meninggal sia-sia. NO! Saya tidak mau menjadi manusia yang demikian.  Di tengah-tengah ke-insecure-an saya, saya bersyukur saya boleh mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Semakin dekat, semakin bersyukur. Lho kok bisa?

Secara fisik saya tidaklah cantik. Rahang tegas, tulang pipi tinggi, hidung pesek, rambut ikal, jidat jenong, pori-pori wajah besar dan oily...begitulah kira-kira gambaran umum bentukan saya. Apakah yang seperti itu tidak cantik? Ya, menurut saya begitu. Saya berpikir alangkah bahagianya yang dilahirkan dengan hidung mancung, wajah tirus, dagu lancip, pori-pori kecil dan badan yang makan sebakul juga ga gendut-gendut. Ya, saya benci dengan orang yang seperti itu. No, lebih tepatnya jealous.

Tapi ternyata “perjumpaan khusus” dengan Tuhan membuat pemikiran cetek saya perlahan semakin terbuka. Fisik bukanlah lagi menjadi hal yang membuat saya minder, iri dengki, bahkan sampai membenci orang lain. Salah satu ayat favorit yang membuat saya tertegur adalah ketika membaca Amsal 31. Meski saya belum menikah, tapi ini merupakan sebuah kekuatan yang membuat saya bersemangat untuk kelak menjadi isteri yang cakap. Hihihi.


Pada akhirnya saya berpikir semua wanita itu cantik. Ya, karena Tuhan membentuk ciptaanNya sedemikian rupa. “Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu hari pun dari padanya.” (Mazmur 139:15-16). Luar biasa memang, lantas apa lagi alasan saya untuk tidak bersyukur? Saya bukan hanya belajar bersyukur atas apa yang saya miliki, tapi juga apa yang orang lain miliki. Saya bukan hanya belajar menghargai diri saya sendiri sebagai ciptaan Tuhan, tapi orang lain juga ciptaan Tuhan yang perlu saya hargai.

Belajar bersyukur itu ga gampang. Kenapa? Karena banyak godaan duniawi yang secara ga langsung buat kita ga bersyukur. Saya suka heran dengan spam comment online shop di Instagram yang bilang “Bosan pendek hitam gemuk dll? Pakai produk xxx dari kami!” seolah-olah membuat stereotype kalau cantik itu yang putih, langsing, dan tinggi. Saya tingginya cuma 158cm, ga putih-putih banget, dan endomorph. Jika spam komen OL shop IG itu dijadikan acuan, berarti saya engga cantik dong? Huaaa…pernah ada seseorang yang berkata begini,”Dek, kamu itu ga cantik..” and then I answered “Gapapa, tapi menurut aku, aku cantik hehehe.” No, I didn’t say it in a narcissist way, but I am just being thankful for what He has done to me :). Bukan berarti saya kontra dengan hal-hal yang berhubungan dengan kecantikan. Saya suka make up, namun saya sadar make up adalah penunjang penampilan, bukan semata-mata karena make up saya cantik dan ketika daya tidak ber-make up saya ga cantik. Salah satu video yang bikin saya makin sadar bahwa cantik itu bukan semata-mata soal penampilan adalah video dari Em Ford from My Pale Skin Blog ini.
Sungguh ya, melihat video ini kaya berkaca, apa saya pernah diginiin orang, atau malah saya pernah giniin orang. Dengan sengaja/tidak mengomentari seseorang sampai akhirnya berujung menghina bahkan menghakimi. Ya, terkadang pun berbicara dengan teman kalau tidak dikontrol suka ga sadar malah ngomongin kelemahan bahkan fisik orang. Awalnya cuma bilang,”Eh, si A cantik ya!” “Ah, dia kan cantik make up.” “Oh ya?” “Iya, dia itu blablabla…” ujung-ujungnya jadi menggunjingkan orang lain. Memang, mulut kalau tidak dikontrol ibarat api, membakar rumah pun ia sanggup. Kalau kita dapat bersyukur atas karya Tuhan dalam kehidupan kita, tentulah kita pun dapat melihat karya Tuhan dalam hidup orang lain juga.

Saat ini pun, saya terkadang masih suka merasa tidak cantik. Lho? Iya, saya merasa jelek kalau lagi malas, lagi susah ngontrol emosi, lagi cemberut, lagi ga sabaran…pokoknya ketika saya dalam kondisi ga “ngenakin” gitu, saya merasa jeleeeek banget. Kalau sudah begitu, ya harus kembali “sadar ke jalan yang benar” hehehe pergaulan yang baik dengan Tuhan dan dengan orang-orang sekitar tentulah membantu kita untuk tetap berada di rules-nya Tuhan. So...selamat menjadi cantik, wanita-wanita! :)

Tuesday, June 16, 2015

Wisuda?

Jadi ceritanya iseng-iseng buka blog, pengen lihat sudah sebanyak apa sarang laba-laba di blog ini. Ternyata bukan sarang laba-laba lagi yang muncul, bahkan sudah berhantu...hiiiii. Oke ini lebay. Hmmm..jadi sebenarnya pengen nulis lagi setelah melihat post terakhirku adalah bulan Juni tahun 2014. OMG! Time flies atau memang akunya yang masa bodoh sama ini blog? *kemudian merenung di pojokan*

*setelah merenung selesai*

Hmmm... sampai mana tadi? Oh ya, maafkan aku ya blog sudah menelantarkanmu karena aku memang suka moody-an. Gaya aja awal-awal pengen,"Wah, pengen nge-blog ah habisnya aku nge-fans banget sama Diana Rikasari!", tapi apa daya meski pun nama depan kami berdua sama tetap saja Diana yang ini sama Diana yang itu beda jauh. Yang pasti Diana yang itu konsisten nge-blog, aku pun konsisten kok...males-malesannya.

Oke lah untuk mengurangi rasa males, aku mulai aja ya tujuanku sebenarnya. Sebenarnya aku pengen nulis kelanjutan dari blog post aku yang terakhir. Iya, yang soal galau-galauan karena skripsi. Lho, kan sudah setahun yang lalu kok masih ada kelanjutannya? Skripsinya belum selesai toh? Eits, enak aja. Ariel aja bilang,"Tak ada yang abadi...", begitu pun dengan skripsiku. Hehehehe. Jangankan skripsi, wong wisuda juga sudah kok. Hehe. Nah, soal wisudalah yang mau aku ceritakan.

Sebenarnya soal wisuda juga bukan hal yang bikin aku excited atau apalah itu. Karena kelamaan nunggunya, men! Aku lulus bulan September 2014, sedangkan wisuda tanggal 7 Maret 2015. Yak, hampir setengah tahun nunggu wisuda doang! Ya sebenarnya gak begitu kerasa juga karena sibuk jadi job seeker, ya kali 5 bulan nunggu-nunggu doang ga ada kerjaan lain. 

Menjelang wisuda yang semakin dekat, barulah muncul ke-excited-an-ku (bahasa apa ini?). Excited jahit kebaya, hunting studio foto yang kece buat foto keluarga, cari-cari tiket murah karena Batam-Bandung ga mungkin jalan kaki, bukan? Sibuk cari-cari penginapan, dll dll sampai capek sendiri. Padahal kalau dipikir-dipikir untuk apa wisuda ribet-ribet? Toh itu hanya celebration, yang jauh lebih ribet adalah mencari pekerjaan :(

Oke, lupakan soal ribetnya mencari pekerjaan yang tak kunjung dapat, kayaknya lebih seru kalau flashback lagi momen wisuda 3 bulan yang lalu. Hehe.

Wisuda tanggal 7 Maret 2015, tapi aku sudah di Bandung tanggal 16 Februari untuk keperluan tanda tangan ijazah. So, 2 minggu adalah waktu yang cukup lama untuk senang-senang di Bandung sebelum akhirnya kembali lagi ke Batam *pasang lagu Raisa - LDR*. Bisa dibilang kerjaan di Bandung cuma makan-nonton-jalan, repreat. Sampai akhirnya niatan kurus untuk wisuda harus ambyar karena berat badan naik. Huhu. Ya sudahlah, untung kebayanya masih muat. Muat dikit. Banyakan ga muatnya. Huft.

Ngomong-ngomong soal kebaya, sebenarnya aku juga ga mau pakai kebaya yang benar-benar kebaya (apa ya istilahnya?), maklum anaknya grasak-grusuk takut ga betah mengingat wisuda bisa sampai berjam-jam. Nah jadi bikinnya lebih ke modern kebaya gitu, terus bawahannya pakai kain lilit aja. Simpel bukan? Jadi masih bisa lari-lari dan jejingkrakan gitu..lah ini mau wisudaan apa mau akrobatik? *abaikan*

Lalu make-up & hair-do. Tidaklah afdol jikalau kostum udah oke tapi muka bare-faced. Tadinya mau sok-sok dendong sendiri, tapi gara-gara bingung mau beli brush apa (alasan macam apa ini) akhirnya kuputuskan pakai jasa make-up arteeeeisss kondang supaya akunya juga ikut kondang. Setelah research sana sini akhirnya pakai jasa Nayah_MUA yang tangannya super duper ajaib karena wajahku yang sudah cantik disulap jadi luar biasa. Untuk make-up puas sekali meskipun rambut agak kurang puas karena menurutku agak kurang rapi. But overall recommended sekali untuk make-up di Nayah_MUA.

Lanjut topoto. Aku pilih Jonas Photo karena sudah terkenal seantero Bandung dan sekitarnya. Harga memang agak pricey dibanding studio yang lain (kecuali dibandingkan dengan studio photo di Batam, jauh mahalan di Batam huhu) dan hasilnya ga perlu diragukan lagi. Service-nya juga oke ngeladenin permintaan buat ngirim fotonya ke Batam. Iya, foto yang udah dibingkai gede itu dikirim ke Batam karena baru jadi sekitar 2 minggu, ya udah ga di Bandung lagi dong kita sekeluarga. Fotonya pun sampai di rumah tepat 2 minggu kemudian, pakai packaging kayu jadi aman dan sama sekali ga lecet.

Begitulah kira-kira gambaran kehebohan wisudaku tanggal 7 Maret yang lalu. Sebenarnya ga heboh-heboh banget sih, but Thank God aku sudah boleh merasakan wisuda. Sudah boleh merasakan bagaimana maju ke depan dan salaman dengan rektor sebagai lulusan cumlaude. Hehehe. Berakhir sudah euphoria wisuda, dan sekali lagi menyadarkanku kalau ini bukan akhir dari segalanya. Wisuda bukan akhir dari perjuangan, mentang-mentang udah ga jadi mahasiwa lagi, tapi sebuah awal yang baru untuk perjuangan selanjutnya. Ya, akhir kata dari saya yang masih menganggur ini, selamat berjuang! :)