Kalau disuruh milih, "Lebih baik sehat atau sakit?", tentu kita semua milih sehat, karena sehat itu enak. Kecuali saya dulu waktu kecil tiap nonton sinetron yang ada adegan di tempat tidur rumah sakit, pakai gips, infus, oksigen di mulut, banyak yang jengukin dan banyak yang perhatiin, tentu saya milihnya sakit aja, karena kelihatannya kok enak banget. Tapi itu dulu, waktu saya masih lugu dan polos (sekarang juga sih). Kalau sekarang, my answer is definatelly "NOOO!" untuk adegan-adegan di ranjang rumah sakit itu, serem ternyata setelah lihat versi aslinya. Ya, saya pernah lihat versi aslinya. Orang tua saya dua-duanya pernah mengalami yang namanya di rawat di rumah sakit. Yang pertama Mami saya, waktu saya kelas 2 SMP, beliau operasi kista kecil di payudaranya. Melihat Mami terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, saya ngilu sendiri. Apalagi setelah beliau selesai menjalani operasi, masih dengan setengah sadar suster-suster membawa Mami saya ke kamar perawatan. Dan saya yang sedari awal menunggu di kamar perawatan cuma bisa terbengong-bengong melihat Mami saya yang antara ga sadar & menahan sakit karena infus yang perlahan-lahan menghilang efeknya. Tapi dulu namanya belum merasa empati, saya cuma bisa diam padahal dalam hati saya panik,"Mami bakal sembuh ga ya?" :(
Selanjutnya Papi saya, waktu saya kelas 3 SMA beliau demam tinggi dan lumayan lama. Kami sekeluarga yang awalnya berpikir "Ah, paling cuma demam biasa" akhirnya meminta Papi untuk berobat ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. And guess what? Papi di diagnosa mengidap DBD (Demam Berdarah) dan harus diopname selama beberapa hari (kurang lebih 2 minggu kalau tidak salah). Dari situ saya merasa semakin takut, takut kondisi Papi lebih parah daripada operasi Mami. Apalagi semenjak Papi diopname, kehidupan berasa stuck dan bener-bener kehilangan, karena biasanya Papi yang antar ke sekolah, yang ngantar kemana-mana, kali ini bener-bener merasa lumpuh, apalagi saya ga bisa bawa mobil -_- belum lagi Mami yang jagain Papi di rumah sakit, rumah pun terbengkalai. Dalam hati saya cuma bisa bilang,"Tuhan, Papi bakal baik-baik aja kan?" Saking berasa kehilangannya saya pernah nulis note di Facebook saya tentang Papi saya disini.
Lanjut, ternyata ga sampai di situ aja, tepatnya tahun lalu (Januari 2013) Mami saya kembali menjalani operasi pengangkatan kista di payudaranya yang ternyata sudah berkembang biak. Kalau 6 tahun yang lalu cuma ada 1 kista, kali ini kistanya sudah bertambah sekitar 40an di salah satu payudara (saya lupa tepatnya berapa). Hancur hati saya, yang tadinya saya ga mau terlihat sedih tapi saya kepikiran juga. Di depan Mami saya ga berani sedih/nangis, takut beliau malah down dan mengganggu proses pengobatannya, saya cuma bilang,"Sabar ya Mi, kita obatin." sambil kasih senyum termanis, tapi dalam hati saya rapuh juga. Takut sama yang namanya kehilangan. Apalagi waktu Mami bilang,"Kan adek belom lulus kuliah, kalau Mami mati gimana?" Ya Tuhan rasanya pengen terjun ke bawah kalau misalnya saat itu saya lagi di gedung bertingkat. Tapi lagi-lagi saya cuma senyum sambil bilang,"Gapapa kok, Mi. Dokternya bilang ga ganas kan? Kita obatin.." Kalau ingat-ingat masa itu rasanya ngeri banget, tapi Puji Tuhan Mami saya sudah melewatinya tahap-tahap operasi dengan baik.
Saat ini, Papi Mami saya dalam kondisi tubuh yang Puji Tuhan baik dan sehat. Tapi beberapa hari yang lalu saya dan keluarga mendapat kabar kalau nangtulang saya di Medan saat ini sedang dalam kondisi lemah tubuh karena kanker paru-paru. Shock. Bukan cuma shock, shock banget. Karen baru beberapa bulan yang lalu beliau menjalani operasi pengangkatan payudara karena mengidap kanker payudara yang ganas. Namun karena hasil laboratorium menyatakan bahwa kanker tersebut ternyata tidak berbahaya, kami bisa bernapas lega, namun ternyata...I don't how it comes, apakah mungkin itu adalah kanker payudara yang telah menjalar sehingga terjadi komplikasi, atau sebelumnya memang sudah ada...yang jelas saat itu nangtulangku sedang dalam kondisi yang sangat lemah. Jujur ketika aku mendengar kabar ini aku cuma bisa diam, namun dalam hati ini meringis, aku mungkin ga bisa merasakan sulitnya nangtulangku bernapas karena sesak di dadanya, tapi aku sedih. Apalagi kalau ingat dulu bagaimana saya tinggal di rumahnya saat saya lagi sibuk-sibuknya intens untuk masuk perguruan tinggi. I love her cooking! Beliau sangat suka memasak, segala macam bahan-bahan di pasar tradisional bisa diubahnya jadi makanan super-duper enak! Even telur dadar sekalipun! How magic her hands are! Terbayang beliau saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit, sediiiih banget rasanya. Mungkin saya hanya 2 bulan berasa di rumahnya, tapi pengalaman yang saya dapat disana, it's more than anything! Meskipun terkadang (bahkan sering) ngeluh karena capek ngerjain tugas-tugas rumahnya, such as nyuci piring seabrek-abrek, nyapu-ngepel, nyuci, but I'd take those as lessons learned :'D thanks for everything, nangtulangku :')
Saat ini saya mungkin tidak bisa membantu apa-apa, tidak bisa membantu dari segi materi ataupun berada di sana untuk memberi support. Yang bisa kulakukan saat ini hanya berdoa, berdoa yang terbaik untuk nangtulangku. Supaya kehendak Tuhan saja yang jadi. Namun jauh dari dalam lubuk hatiku, aku tetap ingin nangtulangku pulih dari sakitnya, sesak di dadanya hilang, supaya beliau ga perlu nahan-nahan sakit lagi. Tapi kembali lagi, biat kehendakNya saja yang jadi, bukan kehendakku. I pray everything the best for you, nangtulang...God bless you..
