Hello, cupcakes! There’s something special about this day. Noooo, it’s not only because of holiday, but today is Sun-day! Yay! You know what I mean, Batam the hot is not permission old (terjemahan harafiah: Batam panasnya ga pake permisi dulu. :p). Batam is sooo hot and until now my activity is just staying in my room with AC-ed. Yesssss, it’s Sunday and Sunny-day and Lazy-day! :p
By the waaaay, I want to share about my experiences during holiday. FYI, this is the 4th Sunday since I’m in Batam. I aaaaaalwaaaaaayyyysss love Sunday, not just because this is the laziest-day-in-the-earth, but I just liked it. I don’t really know, maybe because I was born on Sunday. But I think it’s not relationship (terjemahan harafiah: gak ada hubungannya). Hmmmm *thinking hard (berpikir keras)* Oh okay I give up (melambaikan tangan ke kamera). I just liked Sunday, like I like ice cream. Yeah, maybe this is the most rational reason.
Talking-talking (ngomong-ngomong) about Sunday, I want to share you something. This is the 4th Sunday on my holiday and my 3rd Sunday as a teacher. What? Teacher? Guru? Yessss, guru. *oke, saya permisi ganti bahasa dulu ya* Guru sekolah Minggu lebih tepatnya. Tapi mungkin belum bisa dikatakan guru juga, mengingat saya belum ditahbiskan sebagai guru sekolah Minggu di gereja saya. Kapasitas saya baru sekedar membantu Kakak saya yang adalah guru sekolah Minggu sejak dia duduk di bangku SMA. Whaaat? SMA? Yes, saya selalu kagum dengan loyalitasnya dalam pelayanan. Terkadang saya berpikir kalau saya dari SMA sudah mengajar sekolah Minggu, mungkin banyak orang tua dari anak-anak sekolah Minggu yang protes karena anaknya suka saya marahin. Ya, saya memang agak sensitive sama anak kecil. Mungkin karena saya anak bungsu dan terbiasa jadi anak-paling-kecil-yang-ditimang-timang-muluk, saya ga suka dengan keberadaan anak kecil yang lebih kecil dari saya (oke, berasa ‘kecil’ sekali saya ini). Tapi kalau lihat anak kecil mulai dari bayi sampai balita saya suka, mungkin karena masih lucu-lucunya kali ya, suka saya ciumin dan unyel-unyel sampai tidak bisa bernapas. Kalau yang sudah mulai besar, errrr, jangan harap bisa dapat perhatian dari saya. Saya ingat dulu sepupu saya yang selalu saya bikin nangis gara-gara saya ga suka dia nyentuh barang saya, main mainannya saya, sampai dapat perhatian dari orang tua saya. Saya ga suka. Titik. Oke, kalian mungkin menganggapnya berlebihan, tapi ini kenyataan.
Nah, sifat saya ini cenderung jadi sifat permanen saya menginjak usia belasan (oke, sekarang juga masih belasan kok). Hal ini pula yang membuat saya selalu menolak ajakan Kakak untuk ikut dia mengajar sekolah Minggu sejak masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Ada saja alasan saya untuk menolak ajakannya, muali dari males bangun pagi-pagi lah, takut anak-anaknya pada takut lah karena saya marahin, takut ntar saya cubitin lah anak-anaknya, ya, pokoknya 'Mencari Sebab Serta Mencari Alasan' lah judulnya. Sampai pada suatu hari, tepatnya 3 minggu yang lalu saya meng-iya-kan ajakan Kakak saya. Sebenarnya 4 minggu yang lalu, tapi lagi-lagi saya tidak bisa ikut karena telat bangun (benar, kali ini bukan 'alasan'). Kenapa tiba-tiba saya mau? Ntah lah, saya menganggap anak kecil bukan lagi suatu kebencian, karena saya toh dulunya pernah kecil dan nanti suatu saat bila menikah punya anak dan nantinya akan menjadi anak kecil juga, bukan? Saya meyakini segala sesuatu yang Tuhan kehendaki ada di dunia ini adalah untuk mendatangkan kebaikan, bahkan anak kecil sekalipun.
Akhirnya, sampai juga di moment saya memulai hari pertama saya menemani Kakak saya mengajar sekolah Minggu. Mungkin ada yang belum tau sekolah Minggu itu apa, ya mungkin bahasa simpelnya 'gereja untuk anak kecil'. Anak kecil di sini adalah usia batita/balita samapi dengan sekolah SD kelas 6 yang tergabung dalam Pelayanan Kategorian Pelayanan Anak (PelKat PA). Nah, PA ini dibagi lagi menjadi 3 kelas, yaitu kelas TK (batita/balita s/d kelas 1 SD), kelas kecil (kelas 1 s/d 3 SD), dan kelas tanggung (kelas 4 s/d 6 SD). Nah, Kakak saya adaah guru sekolah Minggu untuk kelas TK. Jujur saya sempat takut dengan respon anak-anak yang akan saya hadapi. Saya takut anak-anaknya tidak bisa menerima saya lah, saya takut crunchy lah, hmmm ya kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan terus terngiang di benak saya dan buru-buru saya menghapusnya dari otak saya. Kenapa saya harus khawatir? Ada Tuhan di samping saya, saya mau dibimbing olehnya dan saya yakin Tuhan mampukan saya. Saya bisa melewati semuanya bukan karena kekuatan saya, tapi karena Roh Kudus yang bekerja di dalam saya. Saya mau jadi 'sarung tangan Tuhan' dan saya biarkan tangan Tuhan bekerja di dalamNya.
Saya memulai pekerjaan saya sebagai 'sarung tanganNya'. Saya benar-benar menikmati alur yang terjadi di dalamnya, memperhatikan dengan seksama yang Kakak saya lakukan dalam mengajar sekolah Minggu,, bertugas sebagai pemain krecekan yang handal, bernyanyi bersama anak-anak kecil yang begitu polosnya mesti terkadang harus butuh kesabaran melihat mereka yang sulit diatur. Semua begitu menyenangkan. Terkikih-kikih melihat tingkah polosnya mereka saat ditanya,"Siapa tadi yang ga berdoa?" Lantas salah satu diantara mereka langsung menunjuk temannya yang lain sambil berkata,"Dia Kak, dia ga berdoa." Lalu Kakak saya bertanya kembali,"Loh, Chris (ya, nama anak bandel itu Chris) kok tau? Berarti Chris ga berdoa ya tadi?" Lalu anak itu hanya terdiam sambil mengangguk pelan. Bagaimana mungkin saya hanya terdiam menyaksikan kejadian itu? Menggemaskan. Melihat mereka begitu bersemangat ketika menyanyikan lagu-lagu ceria dengan gerakan-gerakan yang membuat saya ingin memdaratkan tangan ke pipi mereka satu persatu (bukan, bukan tampar. Dicubit maksudnya). Ada 1 lagu yang saya ketahui dari kampus yang menurut saya sangat pas bila diajarkan kepada adik-adik sekolah Minggu saya. Ini lagunya:
Firman Tuhan ada di hatiku
ada di langkahku.. ada di hidupku
dan terus bertumbuh.. sinari jiwaku..
berbuah, berbuah..
berbuah, berbuah..
uuuuu... uuuu...uuuu...uuuu...
Lagu yang simpel, tapi langsung melekat di otak saya saat pertama kali saya mendengarnya. Lagu yang 'anak sekolah Minggu banget'. Apalagi disertai gerakan-gerakan lucu untuk menggambarkan liriknya. Dan ketika lagu ini saya ajarkan pada adik-adik itu, terlihat ekspresi mereka dengan mulut komat-kamit hanya mengikuti bagian ujung-ujung lagunya saja. Lucuuu, benar-bear lucu. Saya teringat pertama kali mendengar lagu ini pun saya tidak pernah berhenti tertawa, dan sampai sekarang pun demikian. Menyanyikan lagu ini selalu membuat hati saya penuh sukacita :)
Saya senang dengan anak kecil. Ya, saya senang dan saya tidak membenci anak kecil sedikit pun. Ketika melihat ada anak kecil (bukan balita, umur 8 tahun ke atas), reaksi saya bukan lagi menatap mereka dengan sinis dan memalingkan wajah di detik berikutnya. Yang saya lakukan adalah...tersenyum! Saya tersenyum melihat anak kecil. Bukan, bukan senyum palsu, saya menyadari senyum tersebut disertai dengan perasaan yang tidak membenci pula. Saya tidak lagi membenci anak kecil. Saya suka anak kecil. Saya tau ini bukan usaha saya, tapi Tuhan yang bukakan hati saya. Ia tidak membiarkan rasa benci itu terus bersarang di hati saya. Bapa telah pulihkan saya.
Saya senang dengan cara Tuhan membentuk saya. Membiarkan rasa benci itu ada sesaat, namun tidak Dia biarkan bersarang selama-lamanya. Tuhan tau kapan waktu yang tepat untuk memulihkan keadaan saya. Mungkin memang bukan 5 tahun yang lalu, saat pertama kali Kakak saya meminta saya untuk menemaninya mengajar sekolah Minggu. Saya sadar saat itu saya masih mengeraskan hati saya, membiarkan rasa benci itu terus hinggap di hati saya. Tapi Tuhan tidak tinggal diam. Mungkin Kakak saya harus menunggu 5 tahun untuk saya mau mengajar sekolah Minggu. Tapi kapanpun itu waktunya, saya meyakini waktu Tuhan tidak mengenal kata terlambat. Saya bersyukur untukk waktunya Tuhan yang baik :)
Selamat hari Minggu, kesayangan-kesayangan Allah! <3